Selamatkan Kami, Bapak Presiden!
Oleh: Aprinus Salam

Minggu, 29/03/2026. Berdoa dan berharap itu, tentu layaknya dan pantasnya hanya Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Baiklah. Hal itu telah kami, paling tidak saya, lakukan. Tuhan yang Maha Esa, lindungilah kami.
Namun, untuk urusan hidup bernegara dan berbangsa, juga bermasyarakat, kami mengeluhkannya terpaksa kepada Presiden. Mungkin bisa kepada gubernur dan/atau bupati/walikota. Akan tetapi, sangat banyak kewenangan akhirnya bergantung kepada Presiden.
Perang besar yang sedang terjadi, harus terus diikuti dan dicermati, karena cepat atau lambat, jika perang tidak segera berhenti, akan berdampak sangat serius kepada dunia, dan tentu saja secara khusus berdampak ke Indonesia. Tentu kita berharap perang segera berhenti.
Jika perang berkelanjutan, hal yang cepat meruyak adalah harga pangan dan energi (BBM dan listrik). Bukan saja harga akan meroket dan mahal untuk dibeli, tetapi sangat mungkin kelak semakin langka untuk didapatkan.
Jika hal itu terjadi, maka kriminalisasi sosial, ekonomi, dan politik dalam negeri (dan untuk banyak negara) tidak bisa dihindari. Akan banyak kerusuhan, akan banyak penjarahan, akan banyak yang terbunuh. Dapat dibayangkan besarnya korban yang akan ditanggung dan diderita.
Sangat mungkin, kehidupan bernegara juga ambyar. Indonesia akan mengalami kekacauan dan kerugian besar, yang untuk merehabilitasinya mungkin butuh waktu sekitar 20 – 30 tahun ke depan. Rentang waktu rehab itu pun jika terdapat situasi yang kondusif. Jika tidak, waktu rehabilitasi akan membutuhkan waktu lebih lama.
Itulah sebabnya, dalam konteks tersebut kami perlu meminta kepada presiden, sebagai pemilik kuasa dan komando tertinggi, untuk segera memprioritaskan beberapa hal, sebelum semuanya menjadi terlambat. Sekarang saja, mungkin sudah terlambat.
Pertama, perlu segera melakukan koordinasi ketat untuk memperkuat anak bangsa memiliki kemampuan memproduksi segala sesuatunya terkait dengan produksi pangan, energi, dan infrastruktur kehidupan laiinya. Banyak hal aneh di negara ini, bahkan berbagai sembako saja sebagian masih impor. Sebenarnya, jika ada koordinasi dan komando yang ketat, termasuk meminimalkan korupsi, bangsa ini bisa melakukannya.
Seperti ilustrasi yang paling klasik dan konvensional, jangan memberi ikan kepada masyarakat, tapi beri pancing. Dalam situasi itu, program MBG itu jelas tidak benar. Jadi, mari memproduksi pancing untuk mendapatkan ikan. Mari memproduksi berbagai alat produksi, untuk bisa memperbanyak mendapatkan dan menghasilkan pangan dan energi.
Kedua, dengan koordinasi yang efektif, bangsa ini perlu dipersiapkan dan diperkuat kemampuan daya tahannya terhadap berbagai tekanan global dan berbagai kemungkinan invansi eksternal. Artinya, juga terkait hal pertama, negara ini perlu dibangun dalam satu sistem pertahanan yang kokoh, daya tahan pangan dan energi, daya tahan keamanan fisik.
Dengan demikian, berbagai aparat dan inklusi kelembagaan yang kokoh perlu terintegrasi secara maksimal, berbasis kesetaraan, kerakyatan, kebersamaan (kekompakan dan kegotongroyongan). Tidak boleh ada kesewenangan, kekerasan, dan ketidakadilan di dalamnya, apalagi atas nama kelompok suku, agama, ormas, orsospol tertentu. Kita tahu, hal mentang-mentang ini masih sangat mengganggu kinerja bangsa Indonesia untuk bisa mandiri.
Ketiga, tidak kalah pentingnya adalah konsolidasi-konsolidasi ideologis, relijius, dan spiritual untuk mendukung semua hal di atas. Hal-hal ideologisasi seperti cinta tanah air, semangat nasionalisme, yang ditempatkan sebagai warga dunia perlu terus menerus dibina, diperkuat, dan dilestarikan.
Konsolidasi relijius dan spiritual perlu dikokohkan kembali secara moderat dan demokratis agar bangsa ini selalu mendapat perlindungan dari Kekuatan dan Kekuasaan yang muntlak. Setinggi apa pun ilmu dan pengetahuan suatu bangsa, kita tidak bisa meramal apa yang terjadi besok hari. Sebenarnya, banyak hal yang tidak bisa kita ramal terkait dengan berbagai kejadian yang akan datang.
Namun, untuk semua hal yang tidak diketahui tersebut, kita, atau kami, hanya bisa mempersiapkan diri untuk berbagai kejadian yang sangat mungkin menjadi kritis dan darurat. Oleh karena itu, tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain mempersiapkan diri untuk kuat dan kokoh menghadapi segala kemungkinan buruk.
Untuk itu, sekali lagi, kami hanya bisa meminta kepada Presiden untuk benar-benar mengkoordisikan kembali berbagai proses konsolidasi untuk memperkuat dan mengefektifkan kekuatan produktif bangsa dan negara ini.
*Aprinus Salam, Guru Besar FIB UGM
