Kamis, April 16, 2026
BahasaFiksi

Lebih berbahaya Wiji Thukul atau Saiful Mujani?

Oleh: Aprinus Salam

Mana yang lebih berbahaya, Wiji Thukul yang miskin dan seorang buruh dibanding Saiful Mujani yang seorang profesor pakar politik? Bagaimana membandingkannya? Dan berbahaya buat siapa?

Paling tidak, ada tiga skema untuk membandingkannya. Pertama, derajat/kadar transformasi diri. Kedua, gangguan terhadap distribusi sensibilitas. Ketiga, implikasi-implikasi  sosial dan politik setelahnya.

Proses Saiful Mujani menjadi Guru Besar dan pengamat politik yang handal, tentu merupakan perjalanan hidup yang hebat. Ketika mahasiswa di UIN Jakarta, Mujani sudah terlihat cemerlang. Ia menyelesaikan Doktor dari Ohio Amerika. Aktif di berbagai riset politik dan kajian-kajian ilmiah. Sudah dapat dipastikan, jalur sebagai Guru Besar yang berpengaruh sudah menjadi nasibnya.

Mujani terlatih berpikir kritis dan akademis. Berbagai tulisannya banyak dibaca di kalangan akademisi sosial, budaya, dan politik. Ketika dia aktif di lembaga survei politik pemilu, Mujadi bisa mengambil peran untuk “merekayasa” siapa yang perlu menang dan siapa yang perlu dikalahkan. Posisi ini tentu sedikit berisiko terkait jika rekayasa Mujadi tidak cukup sukses.

Mujani juga seorang aktivis dalam arti ia banyak terlibat dalam berbagai aktivisme sosial dan politik. Lebih tua setahun dibanding Thukul  yang kelahiran 1963, dapat diduga dalam cara yang berbeda, ia ada dalam berbagai gerakan hingga Soeharto tumbang pada Mei 1998.

Bedanya, sebelum Mei 1998 itu, Mujani mungkin membaca puisi Wiji Thukul. Sementara itu, Wiji Thukul belum tentu membaca tulisan-tulisan Mujani. Tentu ini hanya dugaan yang belum tentu benar.

Wiji Thukul anak seseseorang yang ayahnya penarik becak. Ekonomi keluarga Thukul sangat memprihatinkan. Thukul kerja serabutan sebagai penjaja koran, penjual karcis bioskop, hingga tukang plitur pada sebuah toko mebel. Pada kelas 2 SMK Kerawitan, ia berhenti sekolah karena kesulitan keuangan.

Thukul sudah menulis puisi pada akhir SD. Kegiatan menulis puisi diteruskannya hingga menjadi pekerja kasar dan sebagai buruh. Situasi di dua dunia yang berbeda ini, menurut Ranciere, jauh lebih berbahaya dibanding seorang penyair terpelajar yang sok ganas.

Dapat diduga, Thukul terlihat lebih otentik. Perjuangan transformasi dirinya antara menjadi buruh dan penyair adalah perjuangan atau migrasi subjek (subjektivasi) yang radikal. Tidak banyak orang bisa seperti Thukul. Thukul mengajarkan kita untuk menjadi subjek emansipatoris radikal.

Persoalan lain, siapa yang dipengaruhi Thukul dan Mujani sehingga keduanya berpeluang menjadi berbahaya? Berbahaya buat siapa dan bagaimana hal itu dimungkinkan? Memang rentang waktunya berbeda, karena Mujani masih eksis hingga kini. Sementara itu, Thukul hanya mewariskan puisi dan derajat inspiratif kisah hidupnya.

Pada tahun 1990an, medsos belum seperti sekarang. Sirkulasi karya-karya Thukul beredar secara lebih terbatas (dibandingkan viralitas Mujani). Dramatisasi karya dan sosok Thukul menghunjam di kalangan mahasiswa dan masyarakat kelas menengah ke bawah. Kumpulan puisi Thukul dapat dilihat pada puisi Pelo (1994), Darman dan Lain-lain (1994), dan Mencari Tanah Lapang (1994). Belakangan, sebagian puisinya diterbitkan lagi dalam Aku Ingin Menjadi Peluru (2000). Karena pada Februari 1998 Thukul menghilang. Kita tahulah, kenapa tiba-tiba Thukul menghilang.

Yang “menguntungkan” Thukul, akumulasi kemarahan, kekecewaan, dan kebencian terhadap Soeharto sudah semakin menggunung. Bara-bara api pada tahun 1996-1997 semakin membesar. Puisi dan sosok Thukul dapat dijadikan pembakar yang efektif. Puisi Thukul terus membakar hingga gejolak besar Mei 1998.

Berbeda sedikit dengan Mujani. Baru-baru ini, karena pernyataaannya tentang bagaimana peluang konsolidasi dalam menumbangkan kepresidenan Prabowo menjadi viral. Media sosial ikut membakar dalam berbagai keperluan. Di satu sisi membela dan mendukung Mujani, di sini lain tentu tetap membela dan mendukung pemerintah yang berkuasa.

Beda lagi, Prabowo belum dua tahun berkuasa. Persoalan kepuasan dan ketidakpuasan terhadap Prabowo belum dapat diidentifikasi dengan jelas. Persoalan keberhasilan dan ketidakberhasilan Presiden Prabowo juga belum bisa diuji kepastiannya.

Tentu, era Mujani hari ini lebih berat dan kompleks dibanding Thukul tahun 1990an-. Kelebihan Mujani adalah keberhasilannya mengakumulasi modal simbolik, sosial, dan budaya. Keberhasilan konversi modal ekonomi untuk sekelas Profesor tentu bukan sesuatu yang istimewa.

Artinya, keberbahayaan (kembali) Mujani masih butuh waktu untuk dilihat perkembangannya. Sayang, sekarang Wiji Thukul tidak bisa berpasangan dengan Mujani. Kalau ada sosok yang mampu menggantikan Thukul, tentu situasi akan lebih berbahaya.

Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *