Indonesia Menghadapi Ancaman Berlapis
Oleh: Aprinus Salam*

Mengamati situasi dunia belakangan ini, negara seperti Indonesia, kalau tidak diantisipasi secara efektif dan sistematis, akan menghadapi ancaman dan kerontokan berlapis. Ancaman dan penghancuran tersebut datang dari dua sisi yang saling melengkapi, dari situasi eksternal dunia, dan dari kondisi internal Indonesia sendiri.
Dari situasi eksternal, siapa pun yang akan menang atau kalah, baik Amerika-Israel maupun Iran, tidak ada situasi yang menguntungkan Indonesia. Jika Amerika menang, Indonesia akan tambah bergantung Amerika. Situasi yang membuat Indonesia akan terus melemah dan menjadi bebek.
Proses menjadi bebek adalah satu situasi hancur-hancuran baik sebagai negara, apalagi sebagai bangsa yang berpenduduk 280-an juta jiwa. Bisa dibayangkan manusia 280-an juta lebih hidup sebagai bebek.
Jika Iran menang, walaupun peluangnya kecil dan berjangka panjang, akan banyak negara pro Iran mencatat bahwa pemerintah Indonesia pernah berusaha akrab dengan Amerika.
Sekali lagi, jika Iran menang, walaupun hampir 90 persen masyarakat Indonesia sangat simpatik dengan perjuangan Iran, tapi justru pada masa ketika pemerintah yang berkuasa di Indonesia tidak memperlihatkan rasa simpatiknya terhadap Iran. Ke depan, akan ada kekonyolan Indonesia yang digadaikan oleh masyarakat dunia pro Iran.
Siapa pun yang menang atau kalah, kondisi pasca perang besar membuat konstelasi dan struktur dunia berubah. Akan tetapi, perubahan tersebut sangat mungkin tidak terantisipasi oleh Indonesia, kalau Indonesia tidak berbenah secara radikal.
Hal yang membuat Indonesia harus berbenah secara radikal, karena Indonesia juga sedang mengalami ancaman dan penghancuran dari dalam dirinya sendiri.
Apa itu? Pertama, rendahnya kemampuan produksi dan tranformasi material negara dan masyarakat Indonesia. Hal ini berimplikasi banyak hal, yakni rendahnya kesejahteraan, rendahnya daya tahan hidup, tingginya konflik kepentingan, menjamurnya premanisme dan kriminalitas, kualitas pendidikan yang buruk, dan sebagainya.
Kedua, kondisi pertama tersebut disebabkan praktik pengelolaan negara yang tidak efektif dan korup. Ruang-ruang ketidakadilan akan terus membesar. Kehidupan bernegara dan berbangsa terancam mengalami pembusukkan dan kehancuran bersama.
Ketiga. Tidak adanya keyakinan etik dan spiritual apa pun yang bisa menjaga, memediasi, mempertahankan, atau menyatukan semangat nasionalisme Indonesia. Hal ini sangat penting karena di Indonesia ini, tidak ada seseorang atau sesuatu apa pun yang ditakuti, termasuk hal-hal melanggar hukum.
Dalam kondisi ancaman berlapis “politik kematian” eksternal dan internal tersebut, apa yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan oleh bangsa Indonesia. Bagaimana strategi menghadapi ancaman berlapis dan proses penghancuran bangsa? Dalam konteks ini, terlepas dari siapa yang akan menang atau kalah dalam konflik global yang sedang berlangsung, maka kepada bangsa yang mana kita perlu belajar.
Amerika tentu hebat, dan terbukti hingga hari ini Amerika adalah negara terkuat dan terhebat di muka bumi. Dalam berbagai hal, Amerika unggul. Banyak negara yang ikut, meniru, bahkan membebek Amerika. Tapi, Indonesia tidak bisa meniru jalan Amerika. Tidak ada persyaratan apa pun yang bisa dipenuhi Indonesia untuk meniru jalan Amerika.
Yang masuk akal adalah Indonesia memilih jalan negara yang lebih kurang sama posisi politik dan ekonominya, yakni Iran. Iran adalah negara yang bisa bertahan dari embargo Amerika lebih dari 47 tahun. Sebagai akibatnya, Iran adalah negara yang terlatih bisa sendiri dan mandiri. Iran adalah negara yang kerja keras dan disiplin.
Iran sekarang apa-apa bisa buat sendiri, teknologi berkembangan pesat dan bisa membuat persenjataan yang canggih. Nyaris tidak ada orang miskin di Iran. Tingkat kesejahteraan naik, apa-apa murah, bahkan harga bensin sekitar Rp500,-/per liter. Dalam sejarahnya, sebagai bangsa Persia yang tua dan besar, Iran bisa bertahan hidup dalam berbagai kesulitan.
Tentu kita tidak bisa memprediksi secara akurat bagaimana nasib Iran ke depan. Dalam berbagai ancaman berlapis dan penghancuran yang ditujukan pada dirinya, Iran masih bertahan dengan gagah.
Pertanyaannya, bagaimana dengan situasi dan kondisi Indonesia? Kalau tidak ada perbaikan yang efektif, negara, bangsa, dan masyarakat Indonesia tidak akan kuat menghadapi ancaman berlapis bertahan dari kerontokan dunia.
Prof. Dr. Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM
