Senin, Maret 9, 2026
Uncategorized

Kill or To Be Killed: Ketika Moralitas Tersungkur di Medan Tempur

oleh: Fajrul Falah*

Dahulu perang hanya dinikmati di film-film
Kini nyata, depan mata, dan mengguncang jagad dunia
Amerika–Israel dan Iran saling menatap
Seperti dua cermin retak yang memantulkan ambisi tak bertepi.

Teritori diperebutkan atas nama keamanan dan respon ancaman
Bagi mereka menganut bahasa yang tak lagi membutuhkan penerjemah:
kill or to be killed.
Langit menegang, tanah, bangunan, jadi saksi bisu statistik nyawa melayang.

Di mana ilmu pengetahuan bersembunyi?
Klaim moralitas menjadi kabur dan gugur
Tulisan tentang kemanusiaan, perdamaian, paper-paper
yang berkualitas dan dijadikan “berhala” tak memiliki daya
Di medan sesungguhnya,  peluru dan rudal berbicara lebih fasih

Sejarah pun tertawa lirih: manusia menyebut dirinya khalifah di muka bumi,
namun berulang kali naik takhta sebagai perusak, mengukir peradaban dengan api,
ledakan, nyawa dan menamainya kemenangan.
Perang adalah doa paling purba yang tak pernah selesai kita baca.

Perang adalah doa paling purba yang tak pernah selesai kita baca.

*Peneliti/Pakar Bahasa Politik dan Budaya, FIB UNDIP

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *