Guru Sejati Tak Pernah Pergi: Kesaksian Prof. Aprinus tentang Prof. Siti Chamamah

Prof. Siti Chamamah Soeratno bersama Prof. Aprinus Salam (tengah, mengenakan topi) dan para muridnya
(Foto: Dokumentasi Aprinus Salam)
Bagi sebagian orang, guru dikenang karena ilmu yang diajarkannya. Namun bagi Prof. Aprinus Salam, Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno adalah sosok yang jauh lebih dari itu. Beliau adalah pembimbing akademik, teladan, sekaligus “ibu sosial” yang hadir dalam perjalanan hidupnya, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit.
“Prof. Siti Chamamah itu guru saya dari S-1 hingga S-3. Beliau promotor saya. Guru dalam arti yang sesungguhnya. Bahkan saya bisa mengatakan kalau beliau adalah ibu sosial saya,” tutur Aprinus mengenang sosok yang telah membimbing perjalanan akademiknya.
Kepergian Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno pada Selasa (7/7/2026) meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Universitas Gadjah Mada, khususnya Fakultas Ilmu Budaya. Bagi Aprinus, kehilangan tersebut bukan hanya tentang berpulangnya seorang guru besar dan filolog terkemuka, tetapi juga tentang kehilangan sosok yang selama ini memberi teladan melalui sikap dan kepeduliannya.
Aprinus masih mengingat bagaimana Prof. Chamamah hadir ketika dirinya menghadapi persoalan birokrasi kampus pada akhir 1990-an akibat tulisan-tulisannya di media massa yang dinilai kritis. Saat itu, Prof. Chamamah memberikan kesaksian dan pembelaan hingga akhirnya pengangkatan Aprinus sebagai dosen UGM dapat terwujud.
Bagi Aprinus, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa seorang pendidik tidak hanya menjalankan peran di ruang kelas. Seorang guru juga hadir ketika muridnya menghadapi tantangan dan membutuhkan dukungan.
“Ibu Sosial” yang Membimbing dengan Ilmu dan Keteladanan
Nilai itulah yang paling dikenang Aprinus dari sosok Prof. Chamamah. Lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 24 Januari 1941, beliau tumbuh dalam keluarga Muhammadiyah yang menanamkan kedisiplinan agama dan ilmu sejak kecil. Lingkungan tersebut membentuk pribadi yang tekun dan memiliki perhatian besar terhadap pendidikan.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, Prof. Chamamah memperdalam kajian bahasa dan sastra di sejumlah negara Eropa. Beliau menguasai bahasa Arab, Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda, selain bahasa Jawa dan Indonesia.
Kemampuan tersebut membuatnya mampu membaca dan memahami berbagai sumber literatur secara langsung. Dalam dunia filologi, hal itu menjadi salah satu kekuatan besar yang mengantarkannya sebagai salah satu pakar kajian naskah Nusantara.
Namun, perjalanan Prof. Chamamah tidak hanya berlangsung di ruang akademik. Beliau pernah dipercaya sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Sekretaris Majelis Wali Amanat UGM, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000–2010.
Dalam berbagai amanah tersebut, beliau dikenal sebagai sosok yang menghubungkan ilmu dengan kepedulian sosial. Baginya, pengetahuan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi perlu memberi manfaat bagi masyarakat.
Warisan Keilmuan yang Tetap Hidup
Selain dikenal sebagai akademisi, Prof. Chamamah juga dikenang sebagai pemimpin yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan kehidupan masyarakat. Saat memimpin ‘Aisyiyah, beliau turut mendorong gerakan literasi dan kepedulian terhadap tayangan media sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih baik.
Pengabdiannya juga meluas hingga tingkat internasional melalui keterlibatannya dalam organisasi seperti World Conference on Religion and Peace (WCRP) dan International Moslem Women Union (IMWU). Pada 2006, dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Majelis Wali Amanat UGM, beliau dipercaya memaparkan perkembangan pendidikan Indonesia dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait capaian Millennium Development Goals (MDGs).
Hingga usia lanjut, Prof. Chamamah tetap mengikuti kegiatan akademik. Menurut Aprinus, beliau masih aktif dalam forum diskusi G10 hingga tahun 2025 sebelum kondisi kesehatannya menurun karena faktor usia.

(Sumber: Dokumentasi UGM)
Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno berpulang pada Selasa (7/7/2026) pukul 20.13 WIB di Rumah Sakit Akademik UGM dalam usia 85 tahun. Beliau meninggalkan suami dan dua orang anak.
Jenazah almarhumah mendapat penghormatan terakhir dari sivitas akademika UGM melalui upacara pelepasan di Balairung UGM pada Rabu (8/7/2026). Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan takziah di Masjid Besar Kauman Yogyakarta dan pemakaman di TPU Karangkajen setelah salat Asar.
Bagi Prof. Aprinus dan para muridnya, kepergian Prof. Chamamah bukan berarti berakhirnya pengaruh seorang guru. Ilmu yang beliau ajarkan akan terus hidup melalui karya, penelitian, dan orang-orang yang pernah mendapatkan bimbingannya.
Sebab, seorang guru sejati tidak hanya dikenang karena apa yang ia ajarkan, tetapi juga karena kebaikan dan keteladanan yang ia tinggalkan dalam kehidupan murid-muridnya. (FF)
