Untung Ada Presiden Trump!
Oleh: Aprinus Salam*

Pasca Perang Dunia II, diikuti perang dingin, dunia hidup secara unipolar, atau lebih tepatnya bipolar. Dua kutub dunia yang dulunya diinvansi untuk berhadapan, hidup dalam menahan diri. Hidup nyaman-nyaman tegang dalam hegemoni kemenangan Barat di satu sisi, dan kuasa “negara utara” di sisi yang lain.
Seperti Indonesia, misalnya. Indonesia hidup dan berkembang sebagai tiruan Barat. Kota, mode, dan gaya hidup berkembang seperti terjadi di kota-kota besar Amerika atau Eropa. Walaupun ada pendidikan agama dan pesantren, tetapi ujungnya, pendidikan di Indonesia berporos pada semua hal seperti di Barat.
Walaupun ada perlawanan-perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni Barat, tetapi secara umum perlawanan tersebut masih bersifat akademik. Perlawanan bersifat akademik tersebut belum mampu mengubah dunia menjadi lebih multipolar. Teori sosial yang berkembang masih bersifat wacana yang belum berpengaruh terhadap keputusan-keputusan politik, ekonomi, dan sosial-budaya.
Nah, belakangan, untung ada presiden, dan kebetulan presiden itu adalah presiden negara paling dominan dan hegemon di dunia, yakni Amerika dengan Donald Trump-nya. Justru karena keliaran Trump, maka tatanan dunia yang “terlanjur” mapan dan terkesan baik-baik saja mengalami pembongkaran.
Pertama, karena keputusan politik Trump untuk menyerang dan memerangi Iran, maka dunia menjadi tahu bahwa Amerika memang hebat dan besar. Akan tetapi, kehebatan dan kebesaran Amerika itu justru memperlihatkan ada dunia atau negara lain yang sangat layak dipelajari perkembangan ilmu pengetahuannya.
Dalam keterbatasannya karena diembargo Amerika selama lebih kurang 47 tahun, Iran berkembang meneruskan tradisi peradaban Persianya, dan mampu memproduksi berbagai hal teknologi canggih secara mandiri. Perkembangan tersebut terkendali sedemikian rupa dalam semangat spritualitas Islam yang terstruktur dan bermartabat.
Kedua, karena keputusan politik Trump untuk berperang dalam skala besar, dunia menjadi tahu bahwa ternyata rakyat Amerika bukan masyarakat yang sangat cerdas dalam memilih presidennya. Lolos dan terpilihnya Trump menjadi presiden sekaligus memperlihatkan bahwa rakyat Amerika mengalami pengonyolan dan pembodohan yang tidak berdasar.
Paling tidak rakyat Amerika tidak tahu bahwa pilihannya terhadap Trump jadi presiden adalah pilihan yang konyol. Bahkan yang lebih konyol, seandainya rakyat Amerika tidak tahu, bahwa kebijakan Trump itu, baik Amerika tidak menang, apalagi menang, hanya akan menguntungkan bisnis Trump di masa depan.
Tentu ada resistensi dan perlawanan internal di Amerika itu sendiri. Hal tersebut seperti memperlihatkan Amerika negara demokratis. Akan tetapi, di balik itu hanya memperlihatkan bahwa militer merupakan sesuatu yang dominan dan berdiri sendiri. Militer tidak terlihat berpihak kepada suara dan semangat rakyat.
Ketiga, perilaku politik Trump memperlihatkan bahwa daya tahan negara dan masyarakat Amerika tidak sehebat yang didengungkan. Memang, sangat banyak orang kaya, orang terkenal, dan orang hebat di Amerika. Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa mentupi bahwa fondasi ekonomi dan sosial Amerika ternyata sangat rentan dengan berbagai perubahan konstelasi struktur dunia.
Paling tidak, sejumlah negara yang tergabung dalam NATO dan berbagai negara proksi Amerika, telah memperlihatkan keengganan, dan juga merasa tidak perlu, untuk bergantung pada dominasi Amerika. Di mata negara-negara NATO, dan itu berkat tingkah laku Trump, Amerika bukan negara keren yang harus terus menerus ditakuti atau diikuti.
Kenapa kemudian, untung ada presiden seperti Donald Trump? Keuntungannya lebih kurang sebagai berikut. Pertama, karena perang Trump ini, seharusnya kita mendapat informasi yang lebih segar bahwa ada negara, seperti Iran misalnya, yang bisa mandiri, bisa berkembang dalam berbagai lini kehidupan, walaupun mendapat tekanan dan kontrol Amerika dan para sekutunya.
Kedua, kasus perang ini, dan sejauh ini Iran bisa bertahan, memperlihatkan bahwa ada dunia atau bangsa lain yang bisa mengubah tatanan dunia menjadi lebih multipolar. Sebagai konsekuensi multipolar, seperti Indonesia, perlu mengembangkan lebih jauh jati diri keilmuan dan karakter budayanya, agar bisa menjadi bangsa yang mandiri dan lebih otentik.
Ketiga, tidak ada salahnya berbagai kurikulum yang sedang berlaku dan masih berjalan, ditinjau ulang untuk direvisi, dan dikembangkan dalam paradigma multipolar. Banyak hal dari belahan dunia lain yang hebat kurang/tidak mendapat perhatian dalam pendidikan di Indonesia.
Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM.
