Blacanan dalam Bingkai Budaya: Eksistensi Masyarakat melalui Penguatan Budaya Lokal

Blacanan-Pekalongan: Budaya lokal menjadi bagian dari eksistensi masyarakat. Selama ini tradisi, cerita rakyat, mitos, sebagian hanya terdapat dalam memori/ingatan masyarakat. Jika tidak dilestarikan dan didokumentasikan dengan baik, maka generasi penerus kehilangan jejak budaya lokal masing. masing. Oleh karena itu, melalui kegiatan tim pengabdian kepada masyarakat ini, fokus untuk menelusuri dan menyusun kebudayaan yang tedapat di Desa Blacanan, Kecamatan Siwalan Kabupaten Pekalongan.
Salah satu cerita dan mitos yang diangakt dan menarik di Desa Blacanan adalah Kepiting Putih (Crab). Menurut sebagian masyarakat setempat, kepiting putih dipercaya membawa kesialan, siapa pun yang menangkap atau membawa pulang hewan ini dipercaya akan mengalami penurunan hasil tangkapan, bahkan bisa menghadapi kesialan dalam kehidupannya. Mitos ini menjadi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat nelayan yang memiliki hubungan sangat dekat dengan laut, sekaligus sebagai refleksi masyarakat pesisir memahami dan merespons fenomena alam yang mereka hadapi secara turun-temurun.
Cerita dan fenomena menarik di Blacanan ini, mendorong tim pengabdian yang diketuai Oleh Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum, beserta anggota Riris Tiani, S.S., M.Hum ini, menghasilkan buku “Blacanan dalam Budaya”. Pengabdian ini terlaksana berkat dukungan dan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Buku tersebut bukan sekadar untuk dokumentasi terkait tradisi, mitos dan ritual yang terdapat di Blacanan, namun untuk menjadikan Blacanan memiliki keunggulan budaya lokal dan menginspirasi desa lainnya untuk menggali buda sesuai potensi dan keunggulan masing-masing.

