Sabtu, November 7, 2026
BahasaFiksi

43 Tahun dalam Perenungan: Prof. Harjito Menghadirkan Refleksi Kehidupan melalui Puisi

Sebuah karya sastra tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Hal-hal sederhana dalam kehidupan dapat menjadi sumber perenungan yang panjang sebelum akhirnya menemukan bentuk dan maknanya. Proses itulah yang tergambar dalam perjalanan lahirnya buku puisi “Ksatria Air” karya Prof. Dr. Harjito, M.Hum., Direktur Pascasarjana Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

Dalam kegiatan Bedah Buku dan Dialog Sastra yang diselenggarakan Program Studi S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS, Jumat (6/11/2026), di Gedung Pascasarjana UPGRIS, Prof. Harjito mengungkapkan bahwa buku tersebut merupakan hasil perenungan panjang selama kurang lebih 43 tahun sebelum akhirnya diterbitkan.

Ia menjelaskan bahwa gagasan dalam puisi-puisinya berangkat dari berbagai hal sederhana yang dijumpai dalam kehidupan. Pengalaman dan pengamatan tersebut kemudian diolah melalui proses refleksi hingga menjadi karya yang memiliki makna lebih luas. Dalam kesempatan itu, Prof. Harjito juga menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah memberikan dorongan sehingga buku tersebut akhirnya dapat diterbitkan.

Salah satu gagasan yang disoroti dalam dialog adalah simbol ksatria dan air. Keduanya menghadirkan refleksi tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan. Sosok ksatria merepresentasikan keteguhan, sedangkan air menggambarkan kemampuan untuk berpikir lentur dan menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan. Melalui simbol tersebut, manusia diajak untuk tidak hanya memiliki prinsip, tetapi juga mampu bersikap adaptif dalam menghadapi perubahan.

Kegiatan ini juga menghadirkan Prof. Aprinus Salam, M.Hum., dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai narasumber, dengan Dr. Nazla Maharani, Ketua Program Studi S2 PBSI UPGRIS, sebagai moderator. Dalam dialog, Prof. Aprinus turut menjelaskan bahwa pemaknaan puisi dapat dilakukan melalui pendekatan hermeneutik, pembacaan yang berorientasi pada teks, serta perspektif pembaca. Perbedaan cara menafsirkan puisi menjadi bagian dari kekayaan proses apresiasi sastra.

Antusiasme peserta terlihat melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, terutama mengenai proses kreatif, perjalanan panjang penerbitan buku, dan cara menemukan gagasan dalam menulis. Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi tersebut, Prof. Harjito memberikan voucher atau hadiah kepada lima penanya.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa menulis bukan semata-mata aktivitas menuangkan gagasan, melainkan juga proses mengolah pengalaman dan perenungan. Perjalanan panjang sebuah karya menunjukkan bahwa inspirasi dapat tumbuh dari hal-hal sederhana, selama seseorang bersedia mengamati, memikirkan, dan memberinya makna.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *