Jumat, Oktober 9, 2026
Pendidikan

Ketika Spiritualitas, Kebudayaan, dan Sastra Saling Beririsan

Spiritualitas dan kebudayaan bukan sekadar dua wilayah yang saling bersinggungan. Di antara keduanya terdapat proses pemberian makna, legitimasi, kepentingan, bahkan relasi kuasa. Ketika spiritualitas memasuki ruang sosial dan kebudayaan, persoalannya bukan hanya bagaimana ia dimaknai, tetapi juga siapa yang menentukan makna dan untuk kepentingan siapa.

Persoalan tersebut mengemuka dalam Academic Student Networking (ASN) 2026 bertema “Tegak Lurus dengan Langit: Spiritualitas dan Hal-Hal yang Belum Selesai dalam Khazanah Sastra”, yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Magister Sastra FIB UGM bersama Magister Sastra Universitas Andalas dan Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro, Rabu (7/10) melalui Zoom.

Mewakili fakultas, Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D., menyampaikan dukungan terhadap forum yang mempertemukan gagasan akademik dari tiga perguruan tinggi tersebut.

Prof. Aprinus Salam dari Universitas Gadjah Mada menyoroti hubungan spiritualitas dan kebudayaan dalam struktur relasi kuasa. Menurutnya, spiritualitas dapat menjadi tameng, tetapi juga dapat menjadi komoditas ketika masuk ke dalam kepentingan sosial, politik, dan ekonomi. Ia menegaskan bahwa spiritualitas berbeda dari ideologi, meski dalam praktik sosial dapat diserap dan diberi artikulasi ideologis ketika masuk ke dalam struktur kepentingan.

Dari Universitas Andalas, Dr. Ivan Adilla menyoroti pengalaman spiritual yang tidak selalu mudah dijelaskan melalui pengetahuan. Pengalaman tersebut dapat hadir melalui narasi yang sederhana, tajam, dan reflektif tentang alam serta manusia.

Sementara itu, Prof. Mudjahirin Thohir dari Universitas Diponegoro menekankan pentingnya melihat manusia dan masyarakat secara kontekstual. Peneliti perlu memiliki self-control untuk membedakan dan memosisikan netralitasnya, sekaligus menstrukturisasi realitas yang kompleks agar dapat dipahami secara lebih luas. “Realitas empirik itu masih random, tugas ilmuwan itu menstrukturisasi sehingga bisa dipahami masyarakat lebih luas,” tegasnya.

Diskusi kemudian mengerucut pada persoalan autentisitas spiritualitas, kecenderungannya menjadi tameng atau komodifikasi, serta posisi ilmuwan dalam menjaga netralitas ketika penelitian berhadapan dengan kepentingan dan pendanaan tertentu, serta hasil kegiatan dan tindaklanjut berikutnya. Pertanyaan tersebut disampaikan oleh mahasiswa doktoral IIH UGM, Fajrul Falah dan Marika Ika, dan ditanggapi oleh ketiga narasumber.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari Magister Sastra FIB UGM, Magister Sastra Universitas Andalas, dan Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro.

Pertemuan lintas kampus ini memperlihatkan bahwa sastra tidak hanya menjadi ruang untuk membaca pengalaman manusia, tetapi juga untuk menguji kembali bagaimana pengetahuan, spiritualitas, dan kebudayaan memperoleh makna di tengah kepentingan yang terus bergerak.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *