Sabtu, November 7, 2026
BahasaFiksi

Tiga Jalan Memaknai Puisi ala Prof. Aprinus Salam

Air mengalir melalui beragam jalan, sementara puisi membuka beragam kemungkinan makna. Setiap pembaca dapat menemukan pemaknaan yang berbeda karena membaca tidak pernah sepenuhnya terlepas dari pengetahuan, pengalaman, dan perspektif yang dibawanya. Dari perjumpaan itulah, membaca puisi bukan sekadar memahami teks, melainkan juga membaca diri dan dunia.

Hal tersebut disampaikan Prof. Aprinus Salam, M.Hum., dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam kegiatan Bedah Buku dan Dialog Sastra yang diselenggarakan oleh Program Studi S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Jumat (6/11/2026), 13.00-15.00 WIB, di Gedung Pascasarjana UPGRIS.


Dalam dialog tersebut, Prof. Aprinus menjelaskan bahwa puisi bukan karya yang selalu mudah ditafsirkan. Setidaknya terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami puisi. Pertama, pendekatan hermeneutik yang berupaya menelusuri pesan atau maksud pengarang dengan mempertimbangkan konteks. Kedua, pendekatan yang berorientasi pada teks dengan memberikan perhatian pada unsur-unsur yang membangun karya itu sendiri. Ketiga, pendekatan yang bertolak dari perspektif pembaca dalam membangun pemaknaan.

Melalui ketiga pendekatan tersebut, Prof. Aprinus menekankan bahwa perbedaan interpretasi tidak serta-merta menjadikan satu pemaknaan benar dan pemaknaan lainnya salah. Pemahaman terhadap puisi justru dapat berkembang melalui pertemuan berbagai perspektif, baik yang berangkat dari pengarang, teks, maupun pengalaman pembaca.

Selain membahas pemaknaan karya sastra, Prof. Aprinus juga menyoroti pentingnya produktivitas menulis. Menurutnya, salah satu hasil penting dari peran dosen dan guru adalah karya tulis. Karena itu, kemampuan menghasilkan tulisan perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari kontribusi akademik dan profesional.

Kegiatan yang menghadirkan Prof. Dr. Harjito, M.Hum., selaku penulis buku sekaligus Direktur Pascasarjana UPGRIS, tersebut dimoderatori oleh Dr. Nazla Maharani, Ketua Program Studi S2 PBSI UPGRIS. Diskusi berlangsung interaktif, ditandai dengan antusiasme peserta yang mengajukan pertanyaan seputar cara menafsirkan puisi dan meningkatkan produktivitas menulis. Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi peserta yang mengajukan pertanyaan, penulis memberikan hadiah kepada lima penanya.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman tentang pendekatan dalam membaca puisi, tetapi juga diajak melihat kegiatan membaca dan menulis sebagai proses intelektual yang saling berkaitan. Puisi, pada akhirnya, menjadi ruang perjumpaan antara teks, pengalaman, pengetahuan, dan perspektif manusia.

Puisi tidak hanya mengajak manusia memahami kata-kata, tetapi juga menafsirkan pengalaman dan membaca kehidupan dari berbagai sudut pandang. Membaca dan menulis puisi, karena itu, bukanlah dua kegiatan yang terpisah, melainkan proses intelektual yang saling melengkapi: membaca membuka kemungkinan pemahaman, sementara menulis mengolah pengalaman dan pemikiran ke dalam bahasa.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *