Generasi Baru Warga Dunia, Melawan Jahiliyah Indonesia
Oleh: Aprinus Salam

Alhamdulillah, saya punya sangat banyak mahasiswa generasi baru, dan mereka semua, hari ini, adalah warga dunia. Mereka membaca buku yang berpengaruh, mereka belajar sejarah dan tokoh-tokoh dunia. Mereka belajar banyak hal karena dunia telah menyediakannya.
Loh, apa itu tidak berbahaya? Nanti mereka tidak mencintai Indonesia loh? Nanti mereka tidak tahu sejarah dan kebudayaan Indonesia loh? Nanti mereka tidak tahu orang-orang penting Indonesia yang layak dipelajari loh?
Beberapa tahun belakangan ini, beberapa teman senior mengeluh. Mereka mengeluh kalau karya-karya mereka tidak dibaca dan tidak dipelajari. Mereka mengeluh jika mahasiswa sekarang tidak lagi mengenal mereka.
Waktu itu saya jawab, mereka membaca. Mereka membaca karya-karya terkenal dari Indonesia. Tapi, mereka juga membaca Murakami yang menawarkan persoalan yang terasa lintas batas: kesepian, kehilangan, hubungan personal, musik, dan pencarian identitas.
Mereka membaca Gabriel García Márquez, Orhan Pamuk, Milan Kundera, Salman Rushdie, dan Elena Ferrante, dan banyak lagi bacaan aneh yang dapat diakses dengan mudah dan cepat.
Generasi baru itu belajar Marxisme, posmarxisme, poshumanisme, dan berbagai teori lain secara leluasa. Teori baru dan penting yang berkembang di dunia, dengan cepat bisa diakses dan dengan santai mereka pelajari di kampus-kampus, kafe-kafe, bahkan sambil main-main di kos teman.
Mereka mencermati apa makna kejujuran, etika, kemiskinan, kesehatan lingkungan, kebohongan, spiritualitas, dan logika-logika keilmuan secara mendalam. Mereka mengikuti perkembangan dunia yang paradoks dan mencemaskan. Mereka belajar banyak bagaimana mengantisipasi masa depannya.
Merekalah yang saya sebut sebagai generasi baru warga dunia. Masalahnya, mereka tahu dan sadar, mereka hidup di Indonesia. Sebuah negeri yang dikuasai para pemimpin jadul dan jahiliyah. Mereka sadar hidup dalam suatu negara yang berantakan.
Maka, munculnya generasi baru warga dunia seperti Fathimah Azzahra dari UI, Zahra Nazira Firman dari Trisakti, dan Naomi Artika Simamora dari Universitas Palangka Raya yang tampil lantang menyuarakan keresahan dan kegundahan masyarakat.
Tentu masih sangat banyak generasi baru warga dunia yang tampil ke depan. Sebagian dari mereka ikut demonstrasi, sebagian dari mereka tetap berekspresi dengan caranya masing-masing, di kampus. Sebagian yang lain turun ke kampung-kampung berdiskusi dengan masyarakat.
Mereka tidak bisa disebut sebagai sekedar warga Indonesia, dalam konstruksi pendidikan, pembelajaran, dalam pengetahuan dan kebiasaan-kebiasaan yang diwariskan secara internal di Indonesia.
Mereka terhubung dengan berbagai masalah dan hal-hal penting yang berkembang di dunia. Mereka tahu tipuan-tipuan kekuasaan yang ingin melanggengkan kekuasaan para jahiliyah. Mereka tahu Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Sayangnya, mereka juga tahu dalam posisi tidak berdaya, tidak punya apa-apa, tidak punya senjata, tidak punya modal, dan mengalami berbagai tekanan. Sekali-sekali, ada ruang-ruang dialog dengan para senior yang sedang berkuasa, mereka dicecar dan dianggap sebagai orang muda yang belum berpengalaman.
Dalam posisi itu, mereka bersuara. Suaranya jernih dan bening. Kalau melihat beberapa tokoh generasi baru warga dunia tersebut, mereka bersuara dengan tenang, logis, dan argumentatif. Bahkan sebagian dari mereka bisa bersuara sambil tersenyum.
Mungkin hari ini mereka kalah. Tidak ada kesempatan yang cukup bahwa mereka bisa menang dalam melawan para jahiliyah. Akhirnya, semua berproses sesuai dengan kendali waktu. Waktu yang akan mengurai satu-satu.
Yang tua jahiliyah semakin tua dan lelah. Satu-satu mereka akan kalah dengan sakit dan kematian. Yang generasi muda akan muncul satu-satu, dalam berbagai cara. Ada yang akhirnya juga kalah dan menyesuaikan diri dengan para jahiliyah.
Mungkin akan ada yang bertahan untuk tetap menjadi warga dunia yang jujur, berani, dan bertanggung jawab. Namun, saya pribadi, sebagai generasi tua, izinkan berpesan. Kelak, jika generasi muda warga dunia ini menjadi para pemimpin Indonesia, tetaplah konsisten sebagai warga yang berani menegakkan keadilan.
Jangan sampai, akhirnya mereka juga menjadi para pecundang yang pada waktu 1998, dan beberapa selebriti yang tiba-tiba kondang, untuk hanya menjadi pecundang-pecundang. Kita tahulah siapa saja mereka yang menjadi pecundang itu. Saya tidak akan menyebut nama, tapi hal ini dapat dengan mudah diketahui.
