Rabu, Februari 18, 2026
BahasaOpini

Bagi Penguasa, Weber Lebih Berbahaya

Oleh: Aprinus Salam*

“Secara prinsip, teori Marxian atau Weberian itu berbahaya. Karena teori mengajarkan bagaimana kita berpikir. Teori juga membangun kesadaran rasional, kita harus mengapa dan bagaimana. Tindakan atau aksi apa yang paling efektif untuk melanjutkan dunia secara adil. Berbahaya buat penguasa yang zalim.”

Belakangan, muncul lagi berita beberapa mahasiswa ditangkap atau ditahan karena memiliki buku tentang pemikiran Marx atau mungkin ada satu dua buku tulisan Marx. Beberapa waktu yang lalu, sejumlah kelompok aktivis dicekal karena, katanya, para aktivis tersebut suka sekali dengan pemikiran anarko sindikalis dan berbagai pemikiran anarko lainnya. Pemikiran Marx memang sangat berpengaruh di dunia. Inspirasi terpenting dari Marx adalah bagaimana ekonomi menjadi poros strukturasi dunia, juga strukturasi kelas-kelas dalam masyarakat. Bagi Mars, struktursi ekonomi tersebut membuat dunia berjalan secara tidak adil. Namun, jangkauan pemikiran Weber jauh lebih kompleks. Basis pemikiran Weber tidak hanya berbasis ekonomi, tapi juga agama, politik, dan kebudayaan. Weber justru memikirkan bagaimana kontradiksi strukturasi-strukturasi tersebut berbenturan dan justru memberi pelajaran dan pengalaman kepada manusia untuk memiliki pemahaman/makna individual dalam melakukan tindakan sosial.

Pemikiran Weber justru berkebalikan dengan pemikiran Marx. Jika Marx mengandaikan strukturasi ekonomi mendeterminasi yang lain. Weber sebaliknya, bisa jadi agama, budaya, birokrasi politik, dan nilai-nilai etis tertentu justru mendeterminasi ekonomi. Melihat perjalanan Indonesia, pemikir Indonesia awal pada 1900-an-1930-an, mungkin lebih akrab dengan pemikiran Marx. Karena Marx dan Weber memang lebih dahulu Marx. Buku Weber yang terkenal, seperti The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism terbit (1905). Buku ini menjadi tonggak utama dalam usahanya menunjukkan bahwa budaya dan sistem nilai dapat menjadi kekuatan yang mendorong perubahan historis. Namun, kalau melihat berbagai aksi dan tindakan para pemikir dan aktivis Indonesia pada tahun tersebut, jauh lebih Weberian daripada Marxian. Para aktivis tersebut justru bergerak atas nama agama dan budaya. Walaupun implikasinya ada yang bergerak untuk kepentingan-kepentingan ekonomi.

Pemikiran Marx menjadi sangat populer di Indonesia, justru karena Pemerintah Orde Baru melarang buku, diskusi-diskusi, dan mata pelajaran yang memperkenalkan pemikiran Marx. Situasi itu berjalan lebih kurang 30 tahun. Karena dilarang, banyak aktivis dan mahasiswa mempelajarinya secara sembunyi. Tapi, mahasiswa reguler secara umum tidak belajar Marxis secara cukup kondusif. Kalau toh belajar juga, akhirnya, tidak ada pemikiran Marxis yang perlu ditakuti, selain pelajaran berjuang untuk menegakkan keadilan ekonomi.

Kalau negara bisa menjaga dan menjalankan amanat keadilan ekonomi, tidak ada yang perlu ditakutkkan dari pemikiran Marxis tersebut. Negara takut, karena teori Marxis terus menerus ngompori pembacanya untuk berjuang menegakkan keadilan ekonomi. Namun, tentu saja perlu diperhitungkan bahwa buku dan pemikiran Weber tidak dilarang dipelajari. Padahal, ajakan Weber untuk menegakkan keadilan ekonomi dan sosial tidak saja berbasis ekonomi, tapi bisa juga berbasis agama, budaya, bahkan etik tertentu dari prinsip-prisip kebajikan bersama yang kontektual.

Pada tahun 1970-an akhir, bahkan hingga 1990-an, mereka yang masih mengusung dan mengkritik pemerintah berbasis teori Marxis, sempat diusir atau kalau masih mau di Indonesia dicekal atau mendapat sanksi tertentu. Mereka pun menjadi terkenal. Pada masa-masa Orba itu, kajian-kajian dalam perspektif Weber banyak ditulis para intelektual, cendekiawan, dan akademisi. Sebagian dari tulisan itu, dibaca pada masanya dan dipelajari hingga sekarang. Bahkan beberapa pemikir dan akademisi kita waktu itu berkeyakinan bahwa perspektif Weberian jauh lebih relevan dibanding Marxian. Masalah ketidakadilan ekonomi memang cukup besar di Indonesia. Akan tetapi, sangat banyak orang Indonesia bisa berjuang bukan atas nama ekonomi. Tapi, atas nama budaya dan agama.

Jadi, sebenarnya, ketika penguasa masih takut dengan buku dan pemikiran Marx, sungguh itu sesat pikir dan hanya memperlihatkan kebodohan. Maksud saya, sebaiknya semua buku teori sosial itu dilarang saja, karena memang berbahaya bagi penguasa.

** Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum., Pakar bidang Bahasa, Komunikasi, Studi Budaya, dan Sastra.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Sastra, UGM.

Bagikan

4 komentar pada “Bagi Penguasa, Weber Lebih Berbahaya

Tinggalkan Balasan ke Oscar1256 Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *