Selasa, September 29, 2026
Bahasa

Energi Sosial Kata-Kata

Oleh: Aprinus Salam

Dalam suatu konteks, peristiwa, dan narasi tertentu, ada seseorang mengatakan, “bajingan”, “ndasmu”, “goblok”, dan sebagainya. Kemudian, kata-kata itu hidup, beredar, terus bergerak, dan berkembang biak. Hal itu membuktikan bahwa kata-kata hidup (seperti bernyawa), berjalan dan menelusup ke mana-mana, ke dalam ruang-ruang yang berbeda. Kata-kata menjadi suatu energi sosial.

Ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, apa atau siapa yang memperkuat kata-kata menjadi suatu energi sosial yang terus bergolak. Kedua, ke ruang seperti apa energi sosial tersebut memperlihatkan energinya. Ketiga, dalam ruang yang berbeda, bagaimana energi sosial berkembang biak. Keempat, karakter energi apa yang sedang berjalan.

Seseorang pun menjadi suatu energi sosial, dan energi sosial seseorang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dimungkinkan karena status dan/atau kelas sosial, usaha-usaha pribadi, dan peluang-peluang struktural yang memungkinkan dan dimungkinkan. Energi sosial seorang dari kelas atas, dengan berbagai usaha yang dimungkinkan, dan peluang struktural yang dimainkan dalam relasi kuasanya, maka energi sosialnya akan lebih besar.

Dengan begitu, dapat dipahami perbedaan kata-kata dari seorang presiden dibanding kata-kata seorang penjual bakso (saya menyebutnya dengan rasa hormat). Seorang presiden berkata apapun, apalagi kata-kata seperti “ndasmu”, maka kata-kata itu akan bergema (berresonansi) ke mana-mana, bergetar ke berbagai sudut dan ruang.

Seorang penjual bakso mengatakan hal yang sama ketika gerobaknya dirobohkan oleh petugas penertiban. Kata “bajingan” dari mulut Pak  Bakso hanya bergerak secara terbatas. Karena energi sosial Pak Bakso memang tidak besar. Kata “bajingan” dari penjual bakso diisolasi sebagai kemarahan spontan, perlawanan yang melanggar hukum. Bahkan tidak jarang keluar perkataan, “Sudah miskin, kok tidak sopan.”

Kalau seorang dosen di kelas membicarakan itu, sangat banyak kendala. Kendalanya adalah keharusan untuk tetap sopan, tidak memperlihatkan sikap-sikap subjektif dan ideologis agar tetap akademis, dan berbagai kendala lain yang kadang bersifat sanksi administratif. Karena, sangat mungkin ada mahasiswa yang kurang suka dengan komen-komen tertentu, kemudian melaporkan ke atasan si dosen.

Kalau kata-kata itu masuk ke ruang-ruang seperti angkringan, perbincangan komunitas, ruang orsospol, bahkan berbagai kantor resmi, hal itu pun bergantung posisi relasi kuasa dalam ruangan tersebut. Kalau di dalam ruangan itu didominasi dan dihegemoni presiden dan orang-orangnya, maka kata “ndasmu” akan dibela sebagai keberanian untuk berkata apa adanya.

Akan tetapi, jika kata bajingan dan ndasmu masuk ke ruang publik yang lebih demokratis dan independen, maka kata bajingan dimaknai sebagai tidak sopan, kurang ajar, tidak beradab, tidak pantas jika itu dikatakan oleh seorang presiden.

Dalam sejarahnya, kata seperti “bajingan”, “ndasmu”, dan “goblok”, dan kata-kata seperti itu, digunakan untuk memaki, menyerang, dan merendahkan manusia lain. Kata itu memberi kode, tetap tergantung konteknya, yang memperlihatkan watak pengguna dalam konteks memaki. Bukan dalam konteks memaki, saya menggunakan kata itu untuk menjelaskan duduk perkaranya.

Selain itu, kata memaki juga memperlihatkan satu situasi hierarkis. Ada relasi kuasa di dalamnya. Dalam posisi di atas, kata memaki menjadi perendahan. Jika mereka yang di bawah menggunakan kata yang sama, kata itu digunakan untuk bertahan, membalas, atau sekedar suatu resonansi sosial. Efeknya tetap berbeda, seperti telah dijelaskan di atas.

Sebagai suatu pengalaman bersama, apa yang ditransformasi kata-kata seperti bajingan, ndasmu, goblok, dsb. Yakni suatu konstruksi bahwa kata-kata itu beresonansi ke mana-mana secara bebas. masyarakat akan terlatih dan terbiasa untuk juga ikut-ikutan memaki dan mencela. Bagaimana pun hal itu sudah dipraktikkan oleh seorang presiden.

Contoh lain bagaimana energi sosial kata-kata (frasa) bermanfaat secara strategis, misalnya puisi “Aku” Chairil Anwar yang dibacakan dan sebagian dihapal oleh masyarakat Indonesia. Kalau sampai waktuku, Kumau tak seorang kan merayu, Tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu, Aku ini binatang jalang, Dari kumpulannya terbuang, …. dan seterusnya.

Puisi itu merupakan puisikalisasi sejarah, suatu masa yang dialami Chairil. Yakni masa keterbelengguan sosial, politik, ekonomi yang berat. Setelah itu, Chairil melawan tentu hanya dengan kata-kata yang menjadi satu energi sosial. Energi sosial untuk mendapatkan kebebasan. Kata-kata itu, seperti dalam puisinya, kini berresonansi terus-menerus, menembus banyak zaman, hingga ke depan.

Aprinus Salam, Guru Besar Sastra di FIB UGM

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *