Pencapaian Tertinggi
Oleh: Aprinus Salam*

Pada pagi 17 Agustus 2026, Okky Madasari kirim WA di Grup yang kebetulan saya ada di dalamnya. (Saya kutip apa adanya)
“My biggest flex – pencapaian tertinggiku sebagai penulis, sebagai ilmuwan sosial, sebagai intelektual. Bukan indeks Scopus, bukan ketika duduk bersama para petinggi dan pembuat kebijakan. Tapi ketika tulisanku menjumpai mereka-mereka ini: Tuan Rumah Indonesia yang sesungguhnya.
Lebih dari 1 dekade menulis untuk Jawa Pos, inilah yang selalu menjadi tujuan terbesar saya: menjumpai pembaca di pojok terminal, di ruang tunggu rumah sakit, di tempat cucian mobil, di warung kopi.
Merdeka!
Foto tukang becak kiriman @arissmn dari Malang.”
Di dalam posting itu, ada gambar yang dikirim dari teman Okky, seorang Pak Becak sedang membaca koran Jawa Pos, mungkin juga membaca tulisan Okky. Saya sangat suka WA itu karena mengingatkan beberapa hal.
Suatu hari, sekitar tahun 1996 atau 1997 (maaf agak lupa), Cak Nun ceramah di Auditoriuam FIB UGM. Banyak hal penting yang disampaikannya, tapi satu hal yang selalu terngiang adalah soal prestasi yang dibanggakan Cak Nun. Kira-kira pernyataannya begini, maaf tidak terlalu persis.
“Saya kenal dengan banyak pejabat, dari presiden hingga bupati hingga camat. Kalau toh saya tidak kenal mereka semua, mungkin mereka kenal saya. Tapi, saya tidak pernah bangga dan tidak pernah menganggap itu sebagai prestasi. Saya tidak pernah tertarik untuk duduk bersama para pejabat itu, apalagi dalam acara resmi.
Suatu hari, saya diajak Gun Jek (nama yang cukup dikenal di Yogya), menemui temannya seorang remaja gelandangan, kurus, dan tentu tidak cukup sehat. Setelah sedikit basa-basi Gun Jek bertanya, “Mas, kamu kenal orang ini?” Saya deg-degan menunggu jawaban remaja gelandangan tersebut.
Setelah melirik saya, remaja itu menjawab satu kata. “Cak Nun”. Tergetar saya mendengar jawaban anak itu. Saya merasa hebat dan sangat keren, bahwa seorang anak gelandangan, kurus, miskin, dan tidak sehat, mengenal saya. Saya merasa, inilah salah satu prestasi hidup saya bahwa saya dikenal sama seorang rakyat jelata. Merekalah pemilik yang berdaulat di negeri ini.
Nah, izinkan saya juga bercerita pengalaman saya dengan tulisan saya sendiri. Tahun 1995, saya menulis esai berjudul “Masyarakat, Polisi Tidur, dan Egoisme Sosial” (Kedaulatan Rakyat, 15 Maret 1995). Sekitar tahun 2013, saya mengikuti semacam acara komunitas, sekedar kumpul-kumpul. Ketika acara mau selesai, seorang Ibu berpakaian sangat sederhana (mungkin sekitar 65 tahun), menghampiri saya.
“Mas Aprinus ya?” tanyanya. Saya agak kaget dan merasa tidak enak hati karena saya tidak mengenal Ibu tersebut. Tapi, saya tidak bertanya siapa beliau, aku pura-pura mengenalnya. “Ibu, apa kabar? Iya, saya Aprinus.”
Yang tidak terduga adalah pernyataannya berikut. “Saya pembaca tulisan-tulisan Mas Aprinus loh. Salah satu yang saya tidak lupa soal polisi tidur itu. Wah, penting itu. Saya sering teringat tulisan itu.” Ibu itu hanya mengatakan itu, kemudian dia pamit. Sambil melihat Ibu itu pergi, saya mengingat tahun berapa saya menulis esai itu. Di rumah, setelah saya memeriksa kliping, ternyata tulisan itu tahun 1995.
Kejadian lain, saya pernah menulis “Surealisme Es Kolak, Mobil, Puasa dan Ngeceng” (Kedaulatan Rakyat, 31 Januari 1996). Suatu hari, dalam rangka buka puasa, saya membeli es kolak di sekitar Jakal. Saya merasa tidak nyaman karena penjual es kolak itu memperhatikan saya. Kemudian, tiba-tiba dia berkata. “Pak Aprinus ya?” Saya jawab, “Iya Pak.”
“Ah, saya ingat surealisme es kolak. Bener to Pak Aprinus?” (Jelek-jelek gini saya juga sering di TV Yogya loh). Kemudian dia menimpali. “Untuk Pak Aprinus gratis. Saya senang sekali Pak Aprinus mau beli es kolak saya.” Tentu saya tidak mau digratisi.
Kembali ke pernyataan Okky Madasari, kebahagian dan rasa pencapaian saya ternyata ada temannya. Saya akan menceritakan ini di setiap ada kesempatan.
*Aprinus Salam, anggota Dewan Guru Besar UGM.
