Sabtu, Juli 25, 2026
OpiniPendidikan

Malioboro Bertransformasi, Teman-Teman Muda Bertransformasi

Oleh Aprinus Salam*

Aku selalu suka dan berdebar membaca tulisan Gus Nas. Tulisan beliau tentang Malioboro harus dicatat sejarah, sejarah teman-teman tua. Mungkin juga sejarah teman-teman muda.

Tahun 1950-an hingga 1980-awal, Malioboro pernah menjadi kawah candradimuka jiwa raga dan intelektualitas seniman-sastrawan di Yogya. Generasi awalnya sudah ditulis oleh Farida Sumargono dalam risetnya tentang sastra Yogya setelah 1945 dan seterusnya.

Tapi, kini Malioboro tidak lebih ruang kapitalisme yang sedikit rapi, pariwisata, dan jual beli kebingungan. Kalau Malioboro tidak bertransformasi seperti itu, teman-teman tua tidak bisa melihat masa “kejayaan Malioboro” sebagai sesuatu yang indah dan syahdu.

Sekarang, seniman-sastrawan itu telah menjadi teman-teman tua. Mereka selalu mengingat masa-masa Presiden Malioboro Umbu Landu Paranggi. Namun, coba diingat, sebagian orang menghormati Umbu bukan karena puisinya, tapi karena konseksrasinya pada puisi dan sastra.

Dari ruang 1970-an itu, di kemudian hari, memang bermunculan nama-nama besar, katakanlah Cak Nun, Iman Budhi Santosa, Linus Suryadi, dan sebagainya. Karya-karya mereka tentu abadi.

Malioboro membunuh roh kebudayaan teman-teman tua, menghidupkan semacam kebanggaan, tapi mungkin tidak relevan dengan teman-teman muda. Di mana dan ke mana teman-teman muda seniman sastrawan mengkonsolidasikan dialektika jiwa dan intelektualitasnya?

Dunia sekarang terbuka, sangat banyak informasi, literatur, dan semua peristiwa di dunia dengan cepat dan mudah didapatkan.

Pemerintah tidak berpihak untuk menghidupkan ruh-ruh seni dan kebudayaan berbasis jiwa dan intelektualitas para leluhur. Indonesia adalah negara kapitalisme semu dan modernitas yang compang camping. Kekuasan pemerintah seperti itu ditangisi Gus Nas, dan tentu tangisan Gus Nas adalah tangisan banyak rakyat Indonesia.

Ke mana teman-teman muda belajar dan berkarya. Alhamdulilah, saya mendapat kesempatan cukup banyak ikut menemani teman-teman muda di kampus dan di komunitas-komunitas.

Teman-teman muda tidak belajar ke Malioboro yang nostalgis dan para seniman-sastrawan teman teman tua. Bahkan sebagian mereka tidak lagi mengenal Iman Budhi Santosa, tidak tahu siapa itu penyair kawakan Mustofa W Hasyim. Apakah itu semacam kemunduran dan perlu disesali?

Teman-teman muda belajar ke banyak ruang dan sudu-sudut dunia. Sekarang, tesis dan disertasi tentang seni, terutama sastra (yang sebagian saya ikuti), jauh lebih bagus dan berbobot. Teman-teman muda dikondisikan untuk menjadi bagian dari masyarakat internasional, bahkan sebagian dikondisikan untuk menjadi kosmopolit.

Karya-karya sastra populer, dalam centang perenangnya, terus bermunculan sebagai bagian dari sirkulasi komoditas dan konsumen-konsumen masyarakat kapitalis.

Tapi, karya sastra yang berbobot, puisi, cerpen, dan novel terus bermunculan dengan aneka ragam genre yang rumit (canggih) dan sangat banyak yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.

Mereka tidak lahir dari rahim Malioboro. Mereka lahir dari rezim global, jaringan dan konektivitas, dan literatur (ruh) dunia. Teman-teman muda bertransformasi dengan cara dan sesuai dengan zamannya sendiri.

Dalam beberapa karya, Malioboro hadir secara konstradiktif. Di satu sisi sebagai kenangan yang disisipkan dan dintroduksi oleh teman-teman tua. Di sisi lain, hadir sebagai ruang-ruang baru tempat kenangan itu ditancapkan sebagai perlawanan. Ada puisi Joko Pinurbo di salah satu pojok Malioboro, loh.

Bukan saya cukup optimis dengan teman-teman muda. Tapi, biarkan mereka mentransfomasikan dirinya tanpa harus ada beban-beban nostalgis Malioboro Umbu atau hal-hal yang dicemaskan Gus Nas.

Teman-teman muda juga sedang berjuang dengan caranya sendiri, dalam tekanan pemerintah yang bermutu rendah. Dalam tekanan kekuasaan yang sangat menjunjung nilai-nilai kesuksesan kapitalistik.

Teman-teman muda juga sedang berjuang dalam tantangan yang sangat berbeda. Hari ini, teman-teman tua juga tidak perlu merasa lebih sukses. Dulu teman-teman tua memang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru. Tapi, kini teman-teman tua terbelah pula menjadi dua; pengkritik keberhasilan 1998, dan penikmat dan penjilat kekuasaan.

Saya berdoa, agar teman-teman muda lebih berhasil mengatasi kesulitan hidupnya, dan menjadi pejuang seni, sastra, budaya yang lebih handal. Lebih handal bukan berarti lebih sukses, tapi paling tidak bisa melewati masa-masa sulit ini dengan elegan.

*Guru Besar FIB UGM

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *