Seni Radikal = Seni Nol Rupiah
Oleh: Aprinus Salam*

Beberapa ciri seni radikal adalah sebagai berikut. Pertama, tidak ada niat mengambil posisi secara politik dan ekonomi. Seni menjadi ekspresi tanpa motif, selain hanya ingin berkesenian secara bebas dan dalam semangat persahabatan.
Kedua, tidak ada sirkulasi dan interupsi uang di dalamnya. Senimannya tidak dibayar, penontonnya tidak membayar. Dan, praktik seni itu nyaris tidak memanfaatkan uang untuk mengikat dan mengakumulasi aktivismenya.
Ketiga, berkesenian sebagai rasa penghormatan terhadap solidaritas berkomunitas. Kesenian sebagai ekspresi untuk memperlihatkan rasa bersaudara dan kasih sayang sesama teman. Kesenian sebagai cara memperlihatkan kepribadian.
Keempat, kesenian itu bisa terjadi dan dilangsungkan di mana saja, di halaman rumah, di pinggir jalan, di alun-alun, di taman kampus, tanpa harus repot dengan tetek bengek teknis persiapan. Secara relatif kesenian itu bersifat spontan.
Tentu berat memposisikan diri menjadi seniman radikal seperti itu. Pertama, laku seperti itu tidak populer, dan senimannya biasanya juga tidak bisa menjadi populer. Katanya, orang tidak populer tidak menarik.
Kedua, hal itu berhubungan langsung dengan penghargaan ekonomis terhadap seniman radikal. Kasar kata, seniman juga manusia yang butuh dana kehidupan. Keberanian untuk membebaskan diri dari itu adalah bentuk dari radikalisasi kehidupan itu sendiri.
Ketiga, masyarakat justru terbiasa dengan praktik berkesenian yang “diisolasi” ke ruang dan tempat tertentu, administratif, dan memang fasilitatif. Seni harus memenuhi syarat formal kapital sosial yang di dalamnya sarat dengan sirkulasi uang. Anehnya, uang itu dianggap milik pemerintah. Mending kalau dianggap milik negara. Kalau milik negara sebenarnya milik rakyat. Tapi, yang terjadi bukan asumsi seperti itu.
Sebagai konsekuensi dari hal tersebut, eksistensi seni yang aslinya sebagai bentuk perlawanan telah diisolasi, menjadi tontonan komersial, menjadi komoditas. Kita tahu, itulah yang dominan berlangsung.
Seni radikal yang nol rupiah itu adalah resistensi yang otentik. Puisi, prosa, dan sastra mendapat dukungan dari hal-hal bersih kooptasi, bersih motif, bersih kepentingan. Yang muncul adalah rasa kekaguman dan ketertegunan.
Hal itulah yang diperlihatkan dan dipertontonkan oleh mahasiswa Magister Sastra FIB UGM, pada malam inisiasi 28 Agustus 2026, di pondok a.salam, Kalimasada, Sleman. Saya sendiri agak terlambat merekam keseluruhan pertunjukan yang saya kira berdurasi 5 menit. Setelah menjadi saksi sekitar 2 menit, saya baru sadar kenapa tidak saya rekam. Yang terekam pun hanya berdurasi 1 menit 54 detik.
Bisa mempertontonkan hal seperti itu tentu perlu berlatih. Yang tidak bisa dilatih adalah menghadirkan ruh, karakter pribadi, dan rasa yang dalam.
*Guru Besar FIB UGM
